Mereka mendobrak dunia yang katanya milik para lelaki. Menjadi srikandi dan wanita pemimpin terbaik keuangan syariah dunia.
seputarberita27- Wanita itu berdiri menghadap layar. Lampu proyektor menyorot.
Menumpahkan gambardi
permukaan tirai putih. Berbagai istilah keuangan terhampar, dirajut dalam
sebuah diagramekonomi syariah.
Bagi awam, pasti asing. Tak mahfum apa arti
garis-garis berukir kata dan angka itu. Tapi lihatlahperempuan ini. Dia sangat karib. Tak hanya
istilah-istilah sulit, alur diagram administrasi rumit soal modal jutaan dolar
itu pun dia paham.
Diagram itu dia
jelaskan dengan rinci. Mulai hulu hingga hilir. Sungguh percaya diri, karena
memang dialah ahlinya. Dan lihat pula para ekonom yang duduk di dalam forum
itu. Semua manggut-manggut. Seolah memahami penjelasan wanita berbaju pink ini.
Perempuan ini memang
bukan sembarang orang. Dia satu-satunya perempuan yang dinobatkan jadi "
individu terkemuka" dalam Kamar Dagang Britania Raya 2016. KepalaKeuangan
Syariah di Norton Rose Fullbright Eropa, firma hukum kondang di sekujur Bumi,
juga diembannya. Dialah, Farmida Bi.
Perihal Muslimah terjun
di dunia kerja sudah jamak. Tak terhitung jumlahnya. Namun, jika menyinggung
industri keuangan syariah, baru segelintir saja. Belum banyak yang menyelam ke
dalam ceruk bisnis ini. Dan salah satu wanita
Muslim yang sudah
malang-melintang di dunia ini adalah Farmida Bi itu.
" Aku sudah tidak
mengetahui adanya tantangan tertentu seperti yang telah saya hadapi sebagai
wanita di industri ini," kata Farmida menceritakan pengalamannya selama
bergelut di dunia keuangan syariah.
Bagi Farmida industri
keuangan syariah perlu generasi muda, Muslimah yang lebih segar dengan ide-ide
baru, yang lebih mengetahui tantangan masa depan. Mereka yang lebih progresif.
" Saya tidak
berpikir pengalaman saya mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh perempuan
muda, yang tampaknya membutuhkan lebih banyak dukungan dan dorongan."
Farmida prihatin dengan
minimnya Muslimah yang berkecimpung di dunia keuangan syariah. Di manapun dia
menghadiri konferensi terkait industri ini, di sana pula para bankir lelaki
berjejal. Bankir Muslimah bisa dihitung dengan jari.
Dia ingin banyak lagi
Muslimah berkiprah di sektor keuangan syariah. Ada pengganti ikon-ikon wanita
di industri yang kue bisnisnya sangat gede ini. Farmida sudah merasa tua...
***
Keinginan Farmida untuk punya penerus di industri keuangan syariah tidaklah berlebihan. Sebab, pasar ini memang menjanjikan. Lihat saja data Thompson Reuters dalam laporan " Global Islamic Economy Report 2016/17" .
Keinginan Farmida untuk punya penerus di industri keuangan syariah tidaklah berlebihan. Sebab, pasar ini memang menjanjikan. Lihat saja data Thompson Reuters dalam laporan " Global Islamic Economy Report 2016/17" .
Menurut data laporan
itu, besar aset industri keuangan syariah dunia pada 2015 mencapai US$2.004
miliar atau setara Rp26.783 triliun. Angka itu diprediksi menggembung lagi
hingga US$3.461 miliar atau sekitar Rp46.256 triliun pada 2021.
Tak hanya keuangan
syariah, perbankan syariah pun punya masa depan cerah. Aset sektor ini pada
2015 tercatat US$1.451 miliar atau sekitar Rp19.392 triliun. Pada 2021
diprediksi membengkak hingga US$2.716 miliar atau sekitar Rp36.299 triliun.
Ceruk bisnis yang
benar-benar menggiurkan. Namun sayang, peran Muslimah dianggap belum maksimal
untuk merubung kue manis industri ini. Padahal, menurut laporan berjudul "
Women in Islamic Finance & Islamic Economy: Unlocking Talent" yang
dikeluarkan oleh Simply Sharia Human Capital, potensi Muslimah sangatlah besar.
Data yang dirilis oleh
lembaga asal London, Inggris, ini menunjukkan Muslimah berusia 15 sampai 64
sekitar 8 persen dari sekitar 7,1 miliar penduduk Bumi. Dari jumlah Muslimah
usia produktif itu, sekitar 350 juta tinggal di Asia Selatan dan Tenggara.
Malaysia sementara ini
dianggap sebagai contoh terbaik peran Muslimah di industri keuangan syariah. Di
negeri jiran itu, 47 persen wanita bekerja dan Muslimah banyak menempati posisisenior
eksekutif industri ini. Lembaga yang juga berbasis di London, Islamic Finance
Review, mencatat, dari 20 wanita pemimpin terbaik di keuangan syariah, 15 di
antaranya dari Malaysia.
Wanita-wanita dari
negara anggota persemakmuran Inggris itu tak hanya moncer di ceruk ekonomi
syariah, tapi juga di industri lainnya. Menurut Simply Sharia Human Capital,
26,3 persen posisi manajerial semua perusahaan terkemuka di Malaysia ditempati
perempuan. Sebut saja Zeti Akhtar Aziz, dia memimpin bank sentral Malaysia,
sejak 2000 hingga 2016.
Namun, peran Muslimah
di dunia kerja terlihat jomplang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Di
negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam itu, peran wanita belum signifikan.
Menurut data Simply Sharia Human Capital, komposisi tenaga kerja di Timur
Tengah dan Afrika Utara " sangat lelaki" .
Jangan melihat negeri
Timur Tengah dan Afrika Utara yang tengah koyak oleh perang. Bacalah data
komposisi tenaga kerja di Arab Saudi, negeri Petro Dolar yang mulai ditumbuhi
gedung-gedung jangkung. Di negeri dengan populasi 28,83 juta jiwa itu, penghuni
kantor-kantor perusahaan didominasi kaum Adam. Hanya 21 persen perempuan Saudi
yang bekerja. Sementara, kaum lelaki yang bekerja 80 persen.
" Tiga dari empat
wanita Arab tidak bekerja dibandingkan rata-rata global yang mencapai 50
persen, dan tingkat pengangguran wanita muda sangat mengejutkan mencapai 43,9
persen, dua kali pengangguran pria muda," kata Sahar Kazranian, Acting
CEO&CIO Middle East Advisors.
Negeri lain di Timur
Tengah tak kalah memprihatinkan. Di Jordania dan Aljazair wanita yang bekerja
hanya 16 persen. Iran tak kalah minim, hanya 18 persen wanita di negeri itu
yang bekerja. Sementara di Mesir hanya 26 persen, dan Tunisia 27 persen. Di
Lebanon perempuan yang bekerja 26 persen, Maroko 27 persen, Oman 31 persen.
Data yang agak
melegakan ditemukan di Bahrain, 41 persen wanita di negeri itu memiliki
pekerjaan tetap. Di Kuwait 45 persen wanita bekerja. Sementara di Uni Emirat
Arab 47 persen wanitanya bekerja, dan Qatar mencapai 52 persen.
Bagaimana di Indonesia?
Menurut data Simply Sharia Human Capital, 54 persen wanita di Tanah Air sudah
diserap dunia kerja. Sementara, 86 persen kaum pria Indonesia sudah berjejal di
ladang kerja.
Data usaha mikro,
kecil, dan menengah, (UMKM) di Afrika juga menunjukkan masih kurangnya peran
wanita. Dari 3.895.340 UMKM yang terdata antara 2003 hingga 2010, mayoritas
dipelopori lelaki. Kaum Adam menguasai 2.976.502 atau 76 persen, sementara
hanya 918.838 UMKM yang dimiliki wanita.
Penasihat keuangan asal
Amanie Advisors Malaysia, Maya Marissa, mengatakan, memang tak mudah bagi
wanita untuk terjun di sektor keuangan syariah. Lelaki begitu dominan. Wanita
--utamanya di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim-- belum diberi
kesempatan. " Termasuk di ruang keuangan Islam," kata dia.
Sementara, konsultan
keuangan syariah independen dari Jerman, Noor Odeh, mengatakan, budaya di
negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim --terutama di negara-negara
Arab-- " terlalu maskulin" . Ini menjadi penghambat besar bagi wanita
untuk berkembang.
" Apalagi jika
kita menyimpulkan bahwa Alquran hanya mengacu pada lelaki," kata dia. Jika
sudah begitu, wanita jatuhnya kebagian urusan domestik keluarga saja.
***
Tapi jangan berkecil
hari. Di tengah budaya yang menekan, ternyata masih ada Muslimah yang menjadi
pemimpin di sektor keuangan syariah. Mereka bahkan menjadi " prominent
person" . Selain Farmida Bi yang telah disebut sebelumnya, ada pula Nida
Raza, Shabnam Mohammad, dan Aisath Muneeza.
Mereka disebut-sebut
sebagai ikon Muslimah yang menjadi pemimpin di sektor keuangan syariah. Para
Muslimah ini merasakan betul besarnya tantangan Muslimah untuk menembus
industri keuangan syariah.
Dengar saja pengakuan
Shabnam Mohammad. Kepala restrukturisasi Tell Group di Timur Tengah dan Afrika
Utara ini mengaku tidak mudah untuk menerobos blokade gender. Dia bahkan
mengaku pernah tidak diberi peran karena faktor umur atau jenis
kelamin.
Tapi, kata Shabnam,
larangan itu tidak menghalanginya untuk melangkah. " Saya lebih suka
bekerja dengan orang-orang yang berpikiran terbuka dan menilai saya dari etika
kerja dan kemampuan saya daripada gender," kata dia.
Perjuangan tak kalah
berat dilalui Nida Raza. Direktur Penasihan Keuangan di Islamic Corporation for
The Development of Private Sector (ICD) ini mengatakan memang sudah banyak
wanita yang bekerja di berbagai industri. Tapi di sektor keuangan syariah,
mereka belum terwakili.
Banyak wanita yang
masih bimbang antara memilih karier dan membangun keluarga. Sementara, bekerja
di sektor keuangan syariah perlu mencurahkan banyak waktu. Dan bagi wanita yang
hidup di dalam " budaya maskulin" memerlukan fleksibilitas hidup yang
lebih.
" Kita harus
belajar tipe insentif di Prancis, Swedia, dan
negara-negara lain di Eropa, yang memungkinkan perempuan bisa mengambil cuti
tanpa kehilangan pekerjaan mereka," kata Nida.
Farmida Bi, Nida Raza,
Shabnam Mohammad, dan Aisath Muneeza, setidaknya menjadi contoh Muslimah yang
mampu mendobrak dominasi kaum Adam di sektor keuangan syariah. Mereka bahkan
muncul ke permukaan menjadi “ prominent person” di bidang itu.
(Laporan: Eko Huda)

0 comments:
Post a Comment